Lulusan UIJ Harus Tangguh Digital, Berakar Kokoh di Pesantren

Senin, 17 Agustus 2026 | 21:26:44 WIB
Prosesi wisuda Diploma, Sarjana, dan Magister UIJ 2026 di Gedung New Sari Utama, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (15/8/2026). (Foto: Fathur Rozi)

JEMBER - Ketua Yayasan Pendidikan Nahdlatul Ulama (YPNU) Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin, mengimbau lulusan Universitas Islam Jember (UIJ) agar menjadi insan yang tangguh digital, tetapi tetap kokoh berideologi Islam pesantren.

Hal itu disampaikannya saat prosesi Wisuda Diploma, Sarjana, dan Magister UIJ 2026 di Gedung New Sari Utama, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (15/8/2026).

Menurutnya, lulusan perguruan tinggi di bawah naungan YPNU Jember tersebut harus menjadi bagian dari generasi emas versi UIJ.

“Apa itu generasi emas versi Universitas Islam Jember? Tangguh di langit digital, namun kokoh berakar di bumi pesantren. Itu yang harus dimiliki,” ujar pria yang akrab disapa Gus Aab tersebut.

Gus Aab melanjutkan, hal itu berarti setiap lulusan yang lahir dari almamater UIJ mampu menguasai turats (kitab kuning/klasik) dan mengaktualisasikannya secara tepat di tengah laju perkembangan zaman.

Di sisi lain, YPNU juga terus mendorong UIJ untuk senantiasa melakukan transformasi kurikulum dan infrastruktur secara menyeluruh agar adaptif terhadap kemajuan zaman.

“Ini yang harus kita lakukan, yang sering kita sebut dalam teori pendidikan sebagai link and match education,” terang juri Akademi Sahur Indonesia (Aksi) tersebut.

Melalui upaya tersebut, lanjut Gus Aab, universitas dapat menumbuhkan pemahaman Islam yang shalihun li kulli zaman wa makan (sesuai dengan perkembangan situasi, kondisi, dan zaman).

Lebih lanjut, ia juga meminta setiap wisudawan untuk selalu menjaga nama baik almamater. “Selamat berjuang di medan yang sesungguhnya. Kibarkan panji-panji kebenaran Islam yang rahmatan lil alamin,” tutupnya.

Sementara itu, Rektor UIJ, Ahmad Halid, menyampaikan bahwa wisuda merupakan fase transisi dari dunia akademik menuju ruang pengabdian yang lebih luas di tengah masyarakat.

“Hari ini para wisudawan dan wisudawati tidak hanya dinyatakan lulus, tetapi juga menerima amanah keilmuan, moral, dan kemanusiaan,” ucapnya.

Ahmad Halid menambahkan, gelar akademik yang kini melekat di belakang nama setiap lulusan bukanlah penanda akhir dari proses belajar. Sebaliknya, gelar tersebut menjadi pengingat atas tanggung jawab untuk terus belajar.

“Serta berkontribusi dan memberikan manfaat kepada masyarakat luas yang baru saja dimulai,” pungkasnya. (roz)

Terkini